Headlines News :

Followers

Dua Ruangan di Masjid Cegah Umat Islam dari Kekalahan dan Kehinaan

REPUBLIKA.CO.ID,  YOGYAKARTA -- Berdasarkan data Kemenag, ada lebih dari 800.000 masjid tersebar di Tanah Air. Selain masjid masih ada yang jumlahnya lebih dari 300 ribu.
Selain untuk ibadah ritual setiap saat, di dalam masjid ada kegiatan kegiatan lain seperti tempat pendidikan Alquran bagi anak-anak, setiap saat ada perjumpaan jamaah untuk mendengarkan taushiyah, peringatan hari-hari besar keagamaan Islam, sebagai tempat penyampaian informasi kemasyarakat umat dan sebagainya.
“Masjid adalah tempat persemaian segala idea, gagasan dan desseminasi informasi yang sangat efektif,” katanya, Rabu (3/12) di Yogyakarta.

Konstruksi masjid, kata Masdar, terdiri dari dua ruang  yaitu ruang dalam dan luar atau serambi. Dua ruangan ini dapat dikatakan sebagai simbol Hablum Minnallah-Hablum Minanas. Ruang dalam sebagai ruang interaksi vertikal antara manusia sebagai hamba dengan Allah SWT (Hablum Minallah).
Sedang serambi masjid sebagai balai umat, pusat hablu minanas, dimana berbagai persoalam sosial keumatan bisa dibahas dan digerakkan. “Keseimbangan ibadah vertikal dan horizontal yang disimbulkan dalam konstruksi masjid inilah yang akan menjamin umat Islam terhindar dari kekalahan dan kehinaan,” katanya.
Namun dalam perkembangan zaman, kata Masdar, semakin banyak masjid yang serambinya dipotong atau tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Sehingga dikhawatirkan masjid hanya akan digunakan sebagai tempat ibadah saja dan tidak lagi membahas masalah social.
Karena itu, lembaga pendidikan seperti STAIN, IAIN dan UIN seluruh Indonesia saat ini lebih memfokuskan perhatiannya ke sektor kemasjidan, agar bisa mengoptimalkan fungsi masjid. Masjid tidak hanya sebagai tempat peribadatan tetapi juga menjadi ajang pembangunan umat untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. 

Delapan Tahun, Ustaz Ashim Tertantang Ajari Umat Islam Baca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beragam metode kini mempermudah umat Islam membaca dan mengkaji Alquran. Ini artinya, tidak lagi ada alasan untuk tidak membacanya.
Di Madura misalnya, Ustaz M Ashim Yahya tertantang untuk membantu umat Islam membaca Alquran. Selama delapan tahun, ia mencari cara bagaimana mempermudah belajar membaca Alquran.  Alhamdulillah, buah ikhtiarnya kini dapat dimanfaatkan.
"Alhamdulillah, pola yang saya ajarkan ini tidak hanya kedepankan teknik hafalan melainkan praktik langsung. Dan ternyata bisa," ucapnya, Rabu (3/12).
Ustaz Ashim menjelaskan, metode awal pengajaran yang diberikannya itu lebih tertuju pada pemahaman huruf hijaiyah melalui bentuk dan titik pada jam pertama, jam kedua, pemahaman tanda baca, jam ketiga, cara baca sambung dan menulis, jam keempat, hukum bacaan, dan jam kelima pada tanda waqof/berhenti.
Untuk pemahaman huruf hijaiyah itu, katanya, berupa huruf hijaiyah, cara memahami huruf melalui bentuk, titik, dan translitasi, dan tempat keluarnya huruf (makhraj). "Setidaknya untuk orang yang benar-benar murni tidak bisa membaca Al quran sedari kecil, Insya Allah, lima jam sudah bisa mempraktikannya langsung. Sedangkan untuk yang sebelumnya sudah pernah belajar soal huruf, Insya Allah dalam waktu tiga jam sudah bisa dengan lancar," katanya.
"Metode saya lebih tertuju pada praktik bukan pada hapalan, hingga seseorang yang belajar akan memahaminya dengan cepat termasuk maknanya," ujarnya.
Bagaimana bisa menemukan teknik baca Al Quran itu?, M Ashim tidak begitu saja menemukan cara ini melainkan sudah melalui perjalanan panjang sedari kecil saat belajar di pesantren dan pengalaman itu dicoba untuk dievaluasi apa yang menjadi persoalan lambannya seseorang mampu belajar baca Al Quran tersebut.
"Saya pelajari itu sejak masih duduk di Tsanawiyah Madrasah Quran Tebu Ireng, Jombang dan Pesantren Lirboyo, Kediri," katanya.
Hingga pada 2007, mencoba hasil pengamatannya selama ini. Praktiknya berhasil dilakukan. "Alhamdulillah, dari orang-orang yang pernah diajar. Mereka sudah bisa membaca menulis Al Quran dalam waktu yang cepat," katanya.
Keinginan untuk memberikan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat banyak itu, tidak terlepas dari firman Allah SWT "Al Quran ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Ali Imran (3): 138).
Kemudian, "Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya," (HR Bukhari).

Sekolah Sekuler Turki Mulai Ditinggalkan

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA — Selama pemerintahan Reccep Tayyip Erdogan bagi selama menjabat perdana menteri maupun presiden jumlah sekolah Islam di Turki meningkat. Tahun 2002, jumlah sekolah Islam hanya 65 ribu, kini jumlahnya naik signifikan.

Kenaikan itu justru membuat cemas kalangan orang tua. Mereka justru menginginkan anak-anaknya mengenyam pendidikan sekuler ketimbang sekolah agama. “Kami sangat menentang pendidikan dengan aturan agama,” kata Ilknur birol, Juru Bicara Aktivis ‘Dont Touch My School’, seperti dilansir Alarabiya, Selasa (2/12).

Pendapat senada juga diutarakan Filiz Gurlu. Ia menilai semakin banyak sekolah sekular yang dijadikan sekolah agama membuat perubahan drastis. Anak-anak tidak lagi memiliki akses ke perpustakaan, komputer, dan ruangan musik. “Ini hal yang keliru,” kata dia.

Para orang tua ini menilai lebih baik Turki memberikan pendidikan sekuler guna mengejar ketertinggalan dengan negara Barat. Ini jauh lebih baik ketimbang mencetak generasi muda yang taat .

Namun, Presiden Erdogan memiliki pertimbangan khusus soal ini. Ia mengatakan, pendidikan agama merupakan benteng dari kerusakan moral.  “Ketika tak ada pendidikan agama dan moral, akan muncul masalah sosial serius seperti kecanduan narkoba dan rasisme yang mengisi kesenjangan,” kata dia.

“Saya tahu, banyak dari pelajar sekolah agama sulit mendapatkan akses pendidikan ke perguruaan tinggi. Semoga Allah tidak membuat kita hidup seperti itu lagi,”

Sebelumnya, sekolah agama sempat ditutup pada tahun 1997 melalui tekanan militer. Kemudian, Partai Keadilan dan Perubahan (AK) berkuasa, aturan itu dicabut. Sekolah agama pun tumbuh subur.

Andreas Schleicher, seorang pakar pendidikan di Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), mengatakan pendidikan Turki masih rendah untuk ukuran standar Barat, "Turki masih memiliki jalan panjang untuk mengejar ketinggalan dengan dunia industri dalam pendidikan. Tetapi jika Anda hanya melihat jumlah perubahan yang telah terjadi, baik pada kualitas dan keadilan, sangat luar biasa, "katanya.

Alhamdulillah, Populasi Muslim di Tulsa Terus Bertambah

REPUBLIKA.CO.ID,  TULSA --- Beberapa dekade lalu, populasi Muslim Tulsa diperkirakan hanya 100 jiwa. Kini, pertumbuhan populasi yang cepat menjadikan Muslim Tulsa menjadi komunitas agama terbesar kedua di Oklahoma.

“Saya menetap di Tulsa setelah mengalami kecelakaan,” kata Raymond Shakir, Muslim AS yang menetap di Tusla lebih dari 40 tahun, seperti dilansir Onislam, Senin (1/12).

Shakir pertama kali tiba di Tulsa, tahun 1970-an. Ia awalnya berencana menengok adiknya yang bekerja di sana. Kemudian, karena kecelakaan, Shakir akhirnya menetap. Di Tulsa, Shakir bekerja sebagai tukang kayu.

Seiring dengan meningkatnya populasi Muslim, kebutuhan akan rumah ibadah tak terhindarkan. “Ada satu titik dimana tidak lagi cukup garasi untuk melaksanakan shalat berjamaah. Kemudian, komunitas Muslim memutuskan untuk membeli rumah dua lantai. Rumah ini digunakan sebagai asrama dan tempat umat Islam di Tulsa bersilaturahim,” ucap Shakir.

“Kami ubah bangunan asli sehingga tanpa lebih besar,”

Selanjutnya, rumah itu tak lagi cukup menampung komunitas Muslim. Umat Islam lalu membeli rumah lagi, di Fourth Street, Birmingham Avenue. Inilah cikal bakal Masjid Al-Salam. Masjid ini mampu menampung 4 ribu Muslim setiap harinya.

Teknisi Kompor Gas

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Tubuhnya gempal agak pendek, ceria, usianya bolehjadi berada pada kepala lima. Sudah 25 tahun berprofesi sebagai teknisi kompor gas dengan segala merek. Sekalipun punya mobil jip, dia memilih sepeda motor dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Panggilan selalu datang dari mereka yang punya masalah dengan kompornya.

Saya saksikan sendiri kepakarannya saat membongkar kompor saya. Seperti tanpa berfikir panjang, tangannya bekerja melaksanakan perintah otaknya dengan sangat cekatan dan sigap. Karena penyakit kompor saya sudah sangat jelas, yaitu sumber api otomatisnya sudah puluhan tahun tidak berfungsi, Bung Sutarman, nama teknisi,  telah membawa lengkap suku cadang yang diperlukan dengan speda motornya yang sarat beban itu.Karena peralatan untuk memungsikan sumber api listrik otomatis sudah berantakan dan harus diganti, kata teknisi, biayanya agak mahal. Monggo mawon (terserah saja), jawab saya. Tidak kurang dari tiga setengah jam waktu yang diperlukan kemudian, barulah semua pekerjaan perbaikan rampung sempurna. Bung Tarman hanya rehat sebentar saat menjalankan salat asar di masjid dekat rumah.

Tentang hidup keagamaannya, Bung Tarman punya cerita sendiri. Bermula dari seorang yang tak hirau dengan agama, entah apa yang mendorong, teknisi ini sekarang sudah mahir baca Alquran, bahkan sudah tamat empat kali. Mentornya seorang guru SD, usia muda, tetapi katanya penyabar. Bung Tarman sangat terkesan dengan sikap sabar gurunya itu. Dengan penuh kesabaran, pelajaran dengan mudah ditangkap, imbuh Tarman, dengan penuh kebanggaan. “Saya bahagia sekali,” katanya.


Ternyata mahir membaca Alquran itu, sekalipun belum tentu faham maknanya, punya nilai tersendiri baginya. Dengan mengikuti kasus Tarman ini, saya semakin menyadari, ratusan juta umat Islam di muka bumi biasa membaca Alquran tanpa mengerti apa yang dibaca. Tentu akan lebih sempurna, jika maknanya mulai difahami. Saya tidak menyampaikan itu kepada Bung Tarman. Bagi saya, rajin salat dan suka baca Kitab Suci sudah merupakan modal awal bagi seorang Muslim untuk membangun pribadi yang baik.

Dulu di Sumatera Barat, melalui surau-surau tradisional, anak muda Minang gemar belajar baca Alquran selama bertahun-tahun. Mereka juga tidur di surau itu.  Sekarang kondisinya semakin memprihatinkan. Novelis alm. A.A. Navis tahun 1950-an dengan sangat tajam menulis novel di bawah judul, Robohnya Surau Kami¸ sebuah kritik kehidupan keagamaan di Minangkabau yang semakin luntur dan dangkal. Sudah sulit dijumpai sekarang sosok manusia semisal Bung Tarman di sana, dalam usia dewasa tergerak hatinya untuk belajar baca Alquran.

Fenomena terbalik ditemui di Jawa, terutama di kawasan perumahan. Tidak sedikit manusia pensiunan tergerak hatinya untuk belajar membaca Kitab Suci ini, dan umumnya mereka berhasil. Fenomena ini jika dipandang dari sisi sosiologis  adalah proses santrinisasi dalam bentuknya yang sederhana, tetapi penting sebagai daya tahan dalam menghadapi pengaruh buruk dari luar.

Teknisi kita ini dengan pengetahuan agama yang tidak seberapa, kualitas imannya mungkin lebih baik dari saya. Tuan dan puan yang mungkin telah belajar agama sampai tingkat doktor, dari sisi iman, jangan memandang enteng seorang teknisi kompor gas yang bagi saya sangat memukau. Bung Tarman dengan sangat rinci menjelaskan harga komponen yang diperlukan untuk kompor, padahal tidak diminta, karena sudah percaya. Tetapi didesaknya juga agar segala sesuatu terang benderang, sedangkan ongkos kepakarannya selama sekian jam bekerja nyaris tanpa henti itu hanya ditetapkan Rp 200 ribu. Seakan-akan kepintarannya itu tidak diperhitungkannya.

Saya semakin kagum mengamati dari dekat sosok yang begini lugu. Padahal kesempatannya jika ingin berkelit di depan saya yang buta huruf dalam masalah kompor terbuka lebar. Rupanya didikan agama sederhana yang didapatnya telah menjadikannya sebagai manusia jujur dan lurus. Proses internalisasi nilai-nilai agama yang membentuk pribadi seseorang dengan karakter yang kuat inilah yang semakin langka kita jumpai dalam kehidupan kolektif kita. Quo vadis pendidikan agama di Indonesia?

Bersedekah Saat Sehat

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Bersedekahlah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan, janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, ‘Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian,' padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadis di atas memberikan pelajaran penting kepada kita mengenai saat sedekah yang akan diganjar dengan pahala yang besar oleh Allah SWT, salah satunya adalah bersedekah saat diri kita sedang sehat.
Besarnya pahala yang didapat orang yang bersedekah pada saat sehat dikarenakan pada umumnya manusia akan merasa pelit ketika berada dalam keadaan sehat.

Bila ia bersedekah dalam kondisi sehat hal itu menjadi bukti akan kesungguhan niatnya dan begitu besar kecintaannya kepada Allah SWT. Inilah yang menjadikan bersedekah pada waktu sehat adalah sedekah yang utama dan berpahala besar.

Berbeda halnya dengan mereka yang sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk sehat. Sementara, ia memandang hartanya akan menjadi milik orang lain maka ketika itu sedekahnya merupakan suatu kekurangan. Karena itu, bersedekah pada saat sehat merupakan bagian penting yang harus kita lakukan dalam hidup ini.

Jangan sampai nikmat sehat yang Allah SWT anugerahkan kepada kita kosong dari amal saleh, salah satunya kosong dari bersedekah. Selain berpahala besar, ketika kita bersedekah pada saat sehat akan menjadikan kita golongan orang yang menyegerakan amal kebaikan.

Hal ini dapat kita pahami dari hadis Rasulullah SAW, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datang tujuh hal; tidaklah kamu menantikan kecuali kemiskinan yang menimbulkan kelalaian, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang merusak, ketuarentaan yang melemahkan akal, kematian yang membunuh dengan cepat, atau menunggu datangnya dajal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat itu lebih berat dan lebih pahit (pedih).” (HR Tirmidzi).

Selain itu, bersedekah pada saat diri kita sehat sama dengan mensyukuri nikmat kesehatan. Itu karena bukti mensyukuri nikmat sehat adalah mempergunakan nikmat sehat itu dengan melakukan ketaatan kepada-Nya yang salah satunya mengisi nikmat sehat dengan banyak bersedekah.

Lainnya, bersedekah pada saat sehat termasuk orang yang diutamakan karena kebanyakan manusia sering melupakan nikmat sehat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Untuk itu, selagi sehat, mari isi kesempatan yang Allah anugerahkan ini dengan memperbanyak amal kebaikan, di antaranya, dengan bersedekah agar mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan dari Allah SWT. Wallahu’alam.

Allah Pun Tertawa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur

Suatu waktu, Rasulullah SAW kedatangan tamu orang yang sangat tidak mampu (miskin), Rasulullah mengajak tamu tersebut ke rumah salah seorang istri beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun, istri Rasulullah hanya memiliki air putih dan tidak bisa menghidangkan makanan yang lain.

Rasulullah SAW kemudian membawa tamunya kepada para sahabatnya, seraya menawarkan, “Siapa saja yang memuliakan tamuku ini, akan mendapat surga.” Salah seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah spontan menjawab, “Saya Rasulullah!

Ia belum sempat berpikir, apakah di rumah ada makanan atau tidak? Yang terpenting, dia  bisa menolong orang lain dan mendapatkan surga sebagaimana ditawarkan Rasulullah SAW.

Selanjutnya, tamu Rasulullah itu pun diajak ke rumahnya. Sampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini!” Istrinya menjawab, “Kita tidak punya persediaan makanan, kecuali untuk si kecil anak kita!

Tanpa berpikir panjang, Abu Thalhah langsung mengutarakan idenya, “Siapkan makanan itu, lalu pura-puralah memperbaiki lampu penerang yang ada di rumah, dan tidurkanlah anak kita!” Ketika hari sudah gelap, tamu Rasulullah itu diajak ke tempat makan.

Istri Abu Thalhah sibuk mempersiapkan hidangan seakan-akan untuk seluruh anggota keluarganya ditambah tamu Rasulullah.
Setelah makanan dihidangkan, istri sahabat itu mendekati lampu penerang rumahnya, berpura-pura memperbaikinya, dan kemudian memadamkannya.
Tujuannya tidak lain, agar sang tamu merasa nyaman menikmati hidangan itu sendirian. Sebab, porsi makanan yang ada hanya cukup untuk satu orang.

Tamu itu menikmati hidangan yang ada dengan lahap, tanpa merasa ada yang janggal dalam jamuan makan malam itu. Dia mengira tuan rumah juga ikut makan bersamanya.
Keesokan harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW, ia disambut dengan senyuman, lalu beliau bersabda, “Allah tertawa (rida) dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.

Hasilnya, Rasulullah rida dengan simbol berupa senyuman ketika bertemu Abu Thalhah, dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah pun rida dengan apa yang mereka berdua lakukan.
Setidaknya ada tiga hikmah yang bisa kita petik dari kisah yang menjadi sebab turunnya Surah al-Hasyr ayat 9 ini.

Pertama, betapa Rasulullah SAW dan Abu Thalhah sahabatnya memiliki jiwa penolong yang sangat mengagumkan sehingga dengan jiwa tersebut, keduanya tidak sempat berpikir apakah di rumahnya ada makanan yang bisa disuguhkan pada tamunya atau tidak? Yang penting memberi!

Kedua, ketika kedermawanan sudah mendarah daging dalam diri seseorang, berbagai cara bisa ia lakukan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain, betapapun sulitnya kondisi yang sedang ia alami.

Ketiga, orang yang dermawan tidak pernah memikirkan tentang dirinya saat hendak memberi, apa yang akan ia makan? Bagaimana nasibnya nanti ketika ia memberi apa yang dibutuhkannya kepada orang lain?
Bahkan, orang yang dermawan mungkin saja menomorduakan kebutuhan keluarganya ketika ada orang yang lebih membutuhkan.

Maka pantas jika kemudian orang yang memiliki jiwa seperti ini akan mendapat rida Allah SWT. Dan di akhirat akan dimasukkan ke surga-Nya. Sebab, orang yang seperti ini lebih mengutamakan orang lain, atas diri mereka sendiri.

Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger