JAKARTA_DAKTACOM: Muhammadiyah telah memastikan peran kepolitikannya
yang elegan dalam sejarah nasional republik Indonesia ini sejak awal
proses apa yang disebut sebagai Era Nation Building atau era penyiapan,
pembentukan, dan penjatidirian negara, bangsa, yang bernama republik
Indonesia jauh sebelum deklarasi kemerdekaan nasional tercapai.
Itu antara lain yang diungkapkan Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan
Publik, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, H. Imam Addaruqutni, pada dialoh
politik nasional menyongsong perubahan kekuasaan, pada Pemilu 2014, di
gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng Raya, 62 Jakarta
Pusat, Rabu ( 2/4/14).Tampil sebagai keynote speech dan orasi politik
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. HM. Din Syamsudin.
MUhammadiyah, masih menurut Imam Addaruqutni, telah menyiapkan kader
bangsa melalui gerakan dakwah Islamiyah reformis dengan diperkuat oleh
pembaruan pendidikan yang sekarang telah melahirkan sekolah dengan tidak
kurang dari sepuluh juta siswa belajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah
dan sekitar 200 perguruan tinggi Muhammadiyah dengan sekitar empat ratus
ribu mahasiswa serta layanan kesehatan umum melalui Pertolongan
Kesengsaraan Oemum (PKO) yang sampai sekarang menjadi layanan kesehatan
dengan berkembangnya ratusan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh
Indonesia. "Semua ini faktual sedikit banyak menginspirasi proses
pembangunan bangsa Indonesia hingga sekarang" tegasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, pada era awal pelaksanaan kedaulatan sebagai
negara bangsa republika Indonesia, Muhammadiyah telah menyumbangkan
segenap tokoh terbaiknya yang berhasil sebagai negarawan dibanding
sebagai politisi an-sich. Hal itu karena masih langkanya kalangan yang
benar-benar terdidik dengan kaliber nasional dan internasional. Diantara
mereka adalah Ki Bagoes Hadikusumo, Ketua PP Muhammadiyah KH. Ahmad
Dahlan, adalah negarawan ulung bagaimana cara menghargai para pejuang
kemerdekaan muslim yang jumlahnya ribuan atau mungkin jutaan jiwa dan
harta benda yang tak terhitung jumlahnya melalui penawaran tujuh buah
anak kalimat yang terdapat di dalam Piagam Jakarta untuk tetap bertahan
meski kemudian dihapus dalam pembukaan UUD 45.
"Namun setidaknya hal itu terukir sejarah sebagai aspirasi demi tetap
abadinya catatan sejarah perjuangan dan pengorbanan umat bagi republik
ini. Selanjutnya Presiden pertama, Bung Karno dan Presiden kdua,
Soeharto, bagaimana pun telah berjasa dan mereka adalah masing-masing
anggota Muhammadiyah dan alumni MUhammadiyah KH. Rasjidi, Menteri Agama
pertama adalah dari Muhammadiyah, Mulyadi Joyomartono, Mensesneg pertama
juga dari Muhammadiyah" tegas Imam Addaruqutni.
Menurut, mantan Ketua Umum PMB ini, meski begitu, signifikannya peran
historis, Muhammadiyah secara organisatoris tidak mengajarkan ambisi
politik kepada para anggotanya dan tidak pula terlibat dalam perebutan
kekuasaan ( Power Struggle) serta jatuh dalam kepentingan politik rendah
( Law Politique). Muhammdiyah tidak juga pernah mengklaim sebagai
kelompok ultranasionalis sebagaimana klaim semacam itu terkadang terjadi
di sementara organisasi atau kelompok kelompok lain di negeri ini.
Tidak berhenti di sini, Muhammadiyah bahkan selalu mengambil peran
penting dalam setiap peristiwa pancaroba politik nasional ( National
Interregnum), seperti Orde Lama ke Orde Baru, dan selanjutnya ke era
reformasi.
"Kini setelah hampir tujuh puluh tahun dan mendekati seabad kemerdekaan
sebagai, etos politik oportunis justru semakin menguat dibanding
semangat kenegarawan dari para penyelenggaraan negara, pejabat publik,
aparatur penegak hukum, politisi dan sebagainya. Angka orang kaya secara
ironis untuk sebagian meningkat karena sumbangan akibat jumlah kematian
kalangan miskin dan rakyat bawah ( the impoverished mortality) ditambah
dengan tingkat korupsi oleh para pejabat publik, aparatur keamanan,
para politisi. Kondisi ini semakin memperburuk citra bangsa ini di
tengah-tengah pergaulan internasional. Sistematisasi praktek korupsi
berlangsung semenjak konseptualisasi peraturan perundang-undangan sampai
bagaimana peraturan perundangan itu dilaksanakan di lapangan dengan
pola kolusif yang akut" papar Purek Perguruan Tinggil Ilmu Al
Qur'an,(PTIQ) Pasar Jum,at, Jakarta Selatan. SelatanPTIQ.***
Home »
news
» Imam Adaruqutni: Muhammadiyah Telah Berhikmad Jauh Sebelum Deklarasi Kemerdekaan Indonesia
Imam Adaruqutni: Muhammadiyah Telah Berhikmad Jauh Sebelum Deklarasi Kemerdekaan Indonesia
Written By Syaffa on Rabu, 02 April 2014 | 21.50
Label:
news

Posting Komentar