REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur
Suatu
waktu, Rasulullah SAW kedatangan tamu orang yang sangat tidak mampu
(miskin), Rasulullah mengajak tamu tersebut ke rumah salah seorang istri
beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun, istri Rasulullah hanya
memiliki air putih dan tidak bisa menghidangkan makanan yang lain.
Rasulullah SAW kemudian membawa tamunya kepada para sahabatnya, seraya menawarkan, “Siapa saja yang memuliakan tamuku ini, akan mendapat surga.” Salah seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah spontan menjawab, “Saya Rasulullah!”
Ia
belum sempat berpikir, apakah di rumah ada makanan atau tidak? Yang
terpenting, dia bisa menolong orang lain dan mendapatkan surga
sebagaimana ditawarkan Rasulullah SAW.
Selanjutnya, tamu Rasulullah itu pun diajak ke rumahnya. Sampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini!” Istrinya menjawab, “Kita tidak punya persediaan makanan, kecuali untuk si kecil anak kita!”
Tanpa berpikir panjang, Abu Thalhah langsung mengutarakan idenya, “Siapkan makanan itu, lalu pura-puralah memperbaiki lampu penerang yang ada di rumah, dan tidurkanlah anak kita!” Ketika hari sudah gelap, tamu Rasulullah itu diajak ke tempat makan.
Istri Abu Thalhah sibuk mempersiapkan hidangan seakan-akan untuk seluruh anggota keluarganya ditambah tamu Rasulullah.
Setelah makanan dihidangkan, istri sahabat itu mendekati lampu
penerang rumahnya, berpura-pura memperbaikinya, dan kemudian
memadamkannya.
Tujuannya tidak lain, agar sang tamu merasa nyaman menikmati hidangan
itu sendirian. Sebab, porsi makanan yang ada hanya cukup untuk satu
orang.
Tamu itu menikmati hidangan yang ada dengan lahap, tanpa
merasa ada yang janggal dalam jamuan makan malam itu. Dia mengira tuan
rumah juga ikut makan bersamanya.
Keesokan harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW, ia disambut dengan senyuman, lalu beliau bersabda, “Allah tertawa (rida) dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.”
Hasilnya,
Rasulullah rida dengan simbol berupa senyuman ketika bertemu Abu
Thalhah, dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah pun rida dengan apa
yang mereka berdua lakukan.
Setidaknya ada tiga hikmah yang bisa kita petik dari kisah yang menjadi sebab turunnya Surah al-Hasyr ayat 9 ini.
Pertama,
betapa Rasulullah SAW dan Abu Thalhah sahabatnya memiliki jiwa penolong
yang sangat mengagumkan sehingga dengan jiwa tersebut, keduanya tidak
sempat berpikir apakah di rumahnya ada makanan yang bisa disuguhkan pada
tamunya atau tidak? Yang penting memberi!
Kedua, ketika
kedermawanan sudah mendarah daging dalam diri seseorang, berbagai cara
bisa ia lakukan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain, betapapun
sulitnya kondisi yang sedang ia alami.
Ketiga, orang yang
dermawan tidak pernah memikirkan tentang dirinya saat hendak memberi,
apa yang akan ia makan? Bagaimana nasibnya nanti ketika ia memberi apa
yang dibutuhkannya kepada orang lain?
Bahkan, orang yang dermawan mungkin saja menomorduakan kebutuhan keluarganya ketika ada orang yang lebih membutuhkan.
Maka
pantas jika kemudian orang yang memiliki jiwa seperti ini akan mendapat
rida Allah SWT. Dan di akhirat akan dimasukkan ke surga-Nya. Sebab,
orang yang seperti ini lebih mengutamakan orang lain, atas diri mereka
sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Posting Komentar