REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Tubuhnya
gempal agak pendek, ceria, usianya bolehjadi berada pada kepala lima.
Sudah 25 tahun berprofesi sebagai teknisi kompor gas dengan segala
merek. Sekalipun punya mobil jip, dia memilih sepeda motor dalam
menjalankan tugasnya sehari-hari. Panggilan selalu datang dari mereka
yang punya masalah dengan kompornya.
Saya saksikan sendiri
kepakarannya saat membongkar kompor saya. Seperti tanpa berfikir
panjang, tangannya bekerja melaksanakan perintah otaknya dengan sangat
cekatan dan sigap. Karena penyakit kompor saya sudah sangat jelas, yaitu
sumber api otomatisnya sudah puluhan tahun tidak berfungsi, Bung
Sutarman, nama teknisi, telah membawa lengkap suku cadang yang
diperlukan dengan speda motornya yang sarat beban itu.Karena peralatan
untuk memungsikan sumber api listrik otomatis sudah berantakan dan harus
diganti, kata teknisi, biayanya agak mahal. Monggo mawon (terserah
saja), jawab saya. Tidak kurang dari tiga setengah jam waktu yang
diperlukan kemudian, barulah semua pekerjaan perbaikan rampung sempurna.
Bung Tarman hanya rehat sebentar saat menjalankan salat asar di masjid
dekat rumah.
Tentang hidup keagamaannya, Bung Tarman punya cerita
sendiri. Bermula dari seorang yang tak hirau dengan agama, entah apa
yang mendorong, teknisi ini sekarang sudah mahir baca Alquran, bahkan
sudah tamat empat kali. Mentornya seorang guru SD, usia muda, tetapi
katanya penyabar. Bung Tarman sangat terkesan dengan sikap sabar gurunya
itu. Dengan penuh kesabaran, pelajaran dengan mudah ditangkap, imbuh
Tarman, dengan penuh kebanggaan. “Saya bahagia sekali,” katanya.
Ternyata mahir membaca Alquran itu, sekalipun belum tentu faham
maknanya, punya nilai tersendiri baginya. Dengan mengikuti kasus Tarman
ini, saya semakin menyadari, ratusan juta umat Islam di muka bumi biasa
membaca Alquran tanpa mengerti apa yang dibaca. Tentu akan lebih
sempurna, jika maknanya mulai difahami. Saya tidak menyampaikan itu
kepada Bung Tarman. Bagi saya, rajin salat dan suka baca Kitab Suci
sudah merupakan modal awal bagi seorang Muslim untuk membangun pribadi
yang baik.
Dulu di Sumatera Barat, melalui surau-surau
tradisional, anak muda Minang gemar belajar baca Alquran selama
bertahun-tahun. Mereka juga tidur di surau itu. Sekarang kondisinya
semakin memprihatinkan. Novelis alm. A.A. Navis tahun 1950-an dengan
sangat tajam menulis novel di bawah judul, Robohnya Surau Kami¸ sebuah
kritik kehidupan keagamaan di Minangkabau yang semakin luntur dan
dangkal. Sudah sulit dijumpai sekarang sosok manusia semisal Bung Tarman
di sana, dalam usia dewasa tergerak hatinya untuk belajar baca Alquran.
Fenomena terbalik ditemui di Jawa, terutama di kawasan
perumahan. Tidak sedikit manusia pensiunan tergerak hatinya untuk
belajar membaca Kitab Suci ini, dan umumnya mereka berhasil. Fenomena
ini jika dipandang dari sisi sosiologis adalah proses santrinisasi
dalam bentuknya yang sederhana, tetapi penting sebagai daya tahan dalam
menghadapi pengaruh buruk dari luar.
Teknisi kita ini dengan
pengetahuan agama yang tidak seberapa, kualitas imannya mungkin lebih
baik dari saya. Tuan dan puan yang mungkin telah belajar agama sampai
tingkat doktor, dari sisi iman, jangan memandang enteng seorang teknisi
kompor gas yang bagi saya sangat memukau. Bung Tarman dengan sangat
rinci menjelaskan harga komponen yang diperlukan untuk kompor, padahal
tidak diminta, karena sudah percaya. Tetapi didesaknya juga agar segala
sesuatu terang benderang, sedangkan ongkos kepakarannya selama sekian
jam bekerja nyaris tanpa henti itu hanya ditetapkan Rp 200 ribu.
Seakan-akan kepintarannya itu tidak diperhitungkannya.
Saya
semakin kagum mengamati dari dekat sosok yang begini lugu. Padahal
kesempatannya jika ingin berkelit di depan saya yang buta huruf dalam
masalah kompor terbuka lebar. Rupanya didikan agama sederhana yang
didapatnya telah menjadikannya sebagai manusia jujur dan lurus. Proses
internalisasi nilai-nilai agama yang membentuk pribadi seseorang dengan
karakter yang kuat inilah yang semakin langka kita jumpai dalam
kehidupan kolektif kita. Quo vadis pendidikan agama di Indonesia?
.jpg)
Posting Komentar