REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Sampai Sabtu, 1
November 2014, tukang cat ini telah bekerja di rumah kami di Nogotirto,
Yogyakarta, selama tiga minggu, sekalipun tidak semuanya bisa masuk
penuh. Inisialnya adalah W, M, S, dan D.
Pekerjaannya sangat
rapi, tertib, dan fokus. Di antara keempatnya, M adalah yang paling
menarik. Bawaannya lucu dan ceria. Tubuhnya kurus, rambut panjang. Saya
memanggilnya seniman.
Sepeda motor Yamaha M keluaran 1977 persis
sama dengan tahun kelahirannya. Warna merah, STNK-nya sudah tidak diurus
lagi. Di saat kondisi motornya masih agak baik, pernah ditangkap
polisi, lalu dibayar Rp 90 ribu. Lepas.
Tetapi setelah tua renta,
masih ditangkap lagi karena pelanggaran lalu lintas. Minta uang rokok.
Karena tidak punya uang, polisi melepaskan begitu saja. Mungkin ada rasa
iba melihat sepeda yang sudah berusia hampir 40 tahun itu. Rem tangan
tidak ada, kabel-kabelnya seperti berkeliaran tak teratur, tetapi
fungsional. Spionnya tanpa kaca. Katanya kecepatan tertinggi masih
sekitar 60 km per jam.
Di atas sadel sepeda tua inilah M hilir
mudik sebagai pekerja harian, entah untuk berapa lama lagi. Tetapi tuan
dan puan harus bangga, mereka ini adalah anak-anak bangsa sebagai
pekerja keras dengan penghasilan UMR (upah minimal regional).
Adapun
pemberi kerja yang baik hati, pasti diberi tambahan dan bonus. M pernah
bekerja di Kalimantan dan Jakarta, sekarang tidak boleh oleh mertuanya
pergi terlalu jauh. Karena terlambat kawin, M baru punya anak satu. Dia
memang berjanji belum akan berumah tangga sampai ibunya sembuh dari
sakitnya.
Adapun W, S, dan D berpenampilan kalem tetapi
kadang-kadang dengan kocak menggoda M dengan kalimat-kalimat jenaka.
Kami pun tertawa bersama. Saya menikmati bergaul dengan mereka.
Pembicaraan
lepas kami tidak pernah menyinggung DPR atau anggotanya yang angkat
meja karena berseteru. Andaikan disinggung, mereka tampaknya tidak
berminat, bikin pusing kepala saja. Apalagi ada DPR tandingan yang baru
pertama kali terjadi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Konsentrasi
mereka adalah pada pekerjaan yang ditekuninya, demi melangsungkan hidup
berkeluarga. Disiplin kerja tukang cat ini demikian tinggi. Saya salut
pada mereka semua.
Sejak hari-hari terakhir ini, W membawa burung
tacer jawa (semacam murai) ke tempat kerja yang baru dibeli dua bulan
lalu. Kicauannya yang tanpa henti menjadi hiburan bagi mereka dalam
suasana panas yang menyengat.
Burung dengan warna hitam putih itu
itu seperti tak mengenal susah, sekalipun terkurung dalam sangkar.
Kerjanya melompat ke sana kemari sambil bernyanyi. Suaranya jauh lebih
merdu dibandingkan nyanyian sumbang sebagian anggota DPR dalam suasana
peradaban politiknya yang masih rendah. Kicauan burung adalah untuk
hiburan pendengarnya, suara anggota DPR yang lantang tetapi culas
menyakitkan telinga rakyat.
Sesekali para tukang ini saya ajak
makan siang bersama dengan suguhan gulai dan satai kambing masakan Jawa
yang terkenal. M tidak ikut, takut kepalanya terganggu. Bisa pening
katanya. Ke warung Padang, dia mau sekali. Semuanya tidak ada yang
pantang.
Makan bersama dengan para tukang ini sungguh
menyenangkan. Suasananya egaliter, tanpa ada sekat sama sekali. Sebagai
anak kampung, saya adalah bagian dari mereka. Tetapi, saya tidak kuat
bekerja fisik seperti mereka yang tahan banting itu. Mereka mesti disapa
dan disantuni dalam batas-batas kemampuan kita.
Tanpa mereka,
banyak sekali keperluan hidup ini yang akan terbengkalai. Para pekerja
adalah tiang ekonomi yang sangat vital bagi desa dan kota. Jika mereka
bekerja dengan penuh keceriaan, itu adalah pertanda mereka senang. Panas
terik seperti dibawa lalu saja, karena hatinya gembira. Maka adalah
sebuah kemuliaan sekiranya bos-bos besar perusahaan menyapa para
pekerjanya dengan sapaan kemanusiaan yang tulus yang dapat mempertalikan
hati dengan hati. Semoga demikian!
.jpg)
Posting Komentar