REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Dengan usainya
pelantikan JJ (Jokowi-JK) sebagai presiden dan wakil presiden pada 20
Oktober pekan lalu, Resonansi ini belum berani mengatakan bahwa
Indonesia sedang memasuki era baru yang lain sama sekali dengan era
sebelumnya yang propasar. Yang mungkin aman untuk dituliskan adalah kita
telah punya pemimpin baru dengan harapan baru yang sangat tinggi dari
masyarakat luas terhadap JJ ini.
Apakah Indonesia sedang menapaki
era baru yang benar-benar prorakyat seperti yang dijanjikan?
Bulan-bulan mendatang yang akan memberikan jawaban. Tidak jarang berlaku
dalam sejarah modern Indonesia, pergantian rezim dielukan, tetapi
karena gagal memenuhi janji untuk kepentingan rakyat banyak, lalu
dihujat seperti tidak punya jasa sama sekali.
Tuan dan puan
jangan mengira bahwa rakyat Indonesia itu selalu ramah dan sopan
terhadap pemimpinnya. Mereka bisa beringas, anarkistis, dengan membakar
bangunan-bangunan milik negara yang dengan susah payah dirancang dan
didirikan.
Oleh sebab itu, di awal masa jabatannya JJ perlu
sangat hati-hati sambil banyak merenung, membaca sejarah bangsa secara
mendalam, jangan sampai terlena oleh antusiasme sambutan rakyat yang
luar biasa terhadapnya, hampir di seluruh nusantara. Jika harapan tinggi
ini dijawab dengan program-program konkret yang langsung menyentuh
nasib akar rumput, maka boleh jadi era baru itu bukanlah sebuah mimpi.
Jangan sampai kultur amnesia (biasa lupa) rakyat Indonesia dijadikan
perisai untuk tidak menepati janji.
Menurut agama, janji itu
adalah utang yang wajib dibayar. Janji-janji kemerdekaan telah kita
dengar sejak jauh tahun 1945, tetapi baru sebagian yang sudah
ditunaikan. Janji bagi pemerataan keadilan dan kesejahteraan bagi
seluruh rakyat Indonesia masih merupakan pekerjaan rumah yang sangat
besar dan menantang bagi JJ untuk diwujudkan lima tahun ke depan.
Sesuatu yang berat, tetapi sungguh mulia. Itulah tujuan utama
kemerdekaan bangsa, tetapi itu pulalah yang telantar selama sekian
dasawarsa.
Awal jabatan JJ dihadapkan pada APBN yang defisit yang
serius. Salah satu cara untuk sedikit mengatasinya ialah dengan
menaikkan harga BBM bulan depan. Gejolak pasti terjadi, tetapi jika
dijelaskan dengan baik dan jujur, rakyat akan paham mengapa harus
menempuh cara yang tidak populer itu.
Untuk tahun-tahun ke depan,
dengan dibenahinya secara sungguh-sungguh dan berani sistem perpajakan,
imigrasi, pelabuhan, BUMN/BUMD, migas, dan ranah-ranah lain yang sarat
korupsi yang menjadi sumber pundi-pundi negara selama ini, maka hantu
defisit itu akan dapat dikurangi, jika bukan dihalau sama sekali.
Pemimpin
sejati bukanlah yang piawai menjual tampang, tetapi yang siap
berdarah-darah membenahi sistem birokrasi kenegaraan yang telanjur rusak
dalam pertarungan untuk membela kepentingan rakyat. Saat tulisan ini
dirancang, saya belum tahu apakah para menteri dalam kabinet JJ adalah
para patriot-petarung, sosok pejabat publik yang sangat kita perlukan
saat ini.
Hal ini menjadi ujian penting dan utama bagi JJ dalam
masa kepemimpinannya. Adapun DPR yang mungkin saja siap menggertak,
tidak perlu terlalu dirisaukan, manakala komitmen untuk membela rakyat
banyak tidak goyah oleh angan limbubu manapun.
Adanya
kekhawatiran akan munculnya dua matahari dalam kepemimpinan JJ, saya
tidak melihat kemungkinan itu. Kepada JK pernah saya sampaikan agar
memahami filsafat huruf Jawa: jika dipangku mati. JK dengan cepat
menangkis, “Saya sudah baca 10 buku tentang kultur Jawa.”
Dengan
modal pemahaman subkultur yang sangat kaya, tetapi ruwet ini, kita
berharap kepemimpinan nasional di bawah JJ akan saling melengkapi dan
saling mengisi. Adalah Jokowi yang dengan tangkas menjawab saat
ditanyakan tentang semboyan JK, makin cepat makin baik. “Saya akan lebih
cepat lagi.”
Jawaban spontan ini mengisyaratkan bahwa kecemasan
akan terbitnya matahari kembar kepemimpinan harus dibuang jauh-jauh.
Dalam filsafat Sumpah Pemuda, Jawa dan Bugis adalah satu belaka dalam
bingkai keindonesiaan yang utuh dan padu.
Harapan baru harus
secepatnya diwujudkan menjadi era baru, di mana demokrasi menjadi pilar
utama untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk menipu rakyat. Semoga!
(Ditulis seminggu sebelum kabinet dilantik)
.jpg)
Posting Komentar