Dalam tiga pemilu yang dilangsungkan di Indonesia pasca-Reformasi 1998,
jumlah perolehan suara partai-partai Islam terus mengalami kemunduran
dibanding Pemilu 1955 (44 persen).
Perolehan suara seluruh
partai Islam (PPP, PKS, PBB, PAN, PKB) pada Pemilu 1999 sekitar 37%,
sedikit naik pada Pemilu 2004 menjadi 38%, dan kemudian turun drastis
menjadi 29% pada Pemilu 2009. Jumlah suara partai Islam akan semakin
kecil lagi bila dibedakan antara partai Islam yang berasaskan Islam
(PPP, PKS, PBB) dan partai berasaskan Pancasila namun berbasiskan massa
dari ormas Islam (PAN dan PKB).
Melihat berbagai survei yang ada
belakangan ini, penurunan ini sepertinya akan terus berlanjut di Pemilu
2014 yang akan datang. Namun demikian, menurunnya suara partai-partai
Islam di atas tidak berarti bahwa Islam politik juga mengalami
kemunduran. Justru sebaliknya, seperti ditulis Tanuwidjaja (2010), Islam
politik terus mengalami kenaikan. Perda tentang moralitas, regulasi
atau perda anti-Ahmadiyah, dan perda syariah lainnya menjamur di
berbagai daerah.
Yang menarik, perda-perda syariah itu banyak
yang dikeluarkan di daerah-daerah yang dimenangkan oleh partai sekuler
seperti PDIP, Golkar, dan Partai Demokrat. Bagaimana menjelaskan
fenomena turunnya suara partai Islam yang bersamaan dengan naiknya Islam
politik ini? Islam politik saat ini tidak hanya diusung oleh partai
yang berlabelkan atau berasaskan Islam.
Partai yang dulu disebut
sekuler dan nasionalis pun, seperti PDIP dan Golkar, kini telah
mengusung Islam politik (Tanuwidjaja, 2010). Sejak 2006, misalnya, PDIP
telah memiliki Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi). Sementara Golkar
telah lama didominasi oleh alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saat
ini hampir tidak ada perbedaan berarti antara partai-partai politik
peserta Pemilu di Indonesia dalam hal ideologi, kecuali apa yang
tertulis dalam AD/ART saja.
Ini tentu sangat berbeda dari tahun
1950-an ketika, seperti ditulis Clifford Geertz, Indonesia dikuasai oleh
politik aliran. Ketika itu, semua partai berjuang dan berperang demi
ideologinya. Saat ini, partai-partai sekuler tidak berani melawan
perdaperda diskriminatif, seperti perda anti-Ahmadiyah, karena takut
dituduh anti-Islam. Partaipartai itu juga mendukung perda-perda
moralitas hanya karena ingin menunjukkan komitmennya kepada Islam.
Inilah
yang disebut dengan naiknya Islam politik yang bersamaan dengan
turunnya suara partaipartai Islam. Fenomena ini terjadi terutama berkat
desakralisasi yang dilakukan oleh Nurcholish Madjid sejak tahun 1970-an
dan juga peran Orde Baru yang mempromosikan ideologi pembangunan sebagai
ganti dari ideologi yang lain. *** Lantas, apa hubungan fenomena
politik Islam di Indonesia dengan Buya Syafi’i dan Bung Hatta?
Dua
tokoh ini memberikan alternatif bagi politik Islam yang lebih humanis.
Muhammad Hatta atau dikenal dengan Bung Hatta adalah tokoh yang sangat
dikagumi dan menjadi idola bagi Buya Syafi’i dalam konteks hidup
bernegara dan dalam menerjemahkan hubungan agama dan negara. Ada dua hal
utama yang diperjuangkan oleh dua tokoh ini. Pertama, negara harus
sekuler, tapi masyarakat harus taat beragama.
Kedua, Islam
politik itu harus mengikuti prinsip garam, bukan gincu, dan berdasarkan
prinsip kemanusiaan atau rahmatan lil ‘alamin. Untuk yang pertama, Buya
Syafi’i selalu mengutip peran Bung Hatta dalam menghapuskan tujuh kata
dalam Piagam Jakarta, “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam kepada
pemeluknya.” Penghapusan ini menegaskan bahwa negara harus bersikap
netral terhadap semua agama dan keyakinan, serta tak berhak menjadi
hakim dalam urusan teologi.
Negara juga tak boleh memaksakan
keyakinan atau syariat tertentu kepada rakyatnya. Negara tak punya
urusan dengan keyakinan ortodoks ataupun keyakinan sesat yang berkembang
di masyarakat. Apa yang terjadi sekarang dengan perda anti-Ahmadiyah
adalah keikutsertaan negara dalam menentukan mana keyakinan yang
ortodoks dan dukungan terhadap ortodoksi itu.
Pilihan menjadi
negara sekuler, tapi masyarakat beragama, seperti yang dilakukan oleh
Buya Syafi’i dan Bung Hatta itu memiliki banyak kesamaan dengan
Abdullahi Ahmed An- Na’im dari Sudan dan Rachid Ghannouchi dari Tunisia.
Bagi mereka, justru dalam suasana sekuler seperti itu maka keberagamaan
yang genuine akan tercipta. Orang taat beribadah bukan karena takut
negara atau takut diserang kelompok garis keras, tapi benar-benar keluar
dari keyakinannya.
Seperti terjadi sekarang ini, keberpihakan
negara pada Islam justru mengarahkannya pada keberpihakan kepada aliran
atau jenis keyakinan agama tertentu dan memusuhi aliran keagamaan yang
lain. Untuk prinsip kedua, Bung Hatta dan Buya Syafi’i termasuk orang
yang berpihak kepada Islam substantif. Sebagaimana prinsip garam, tak
kelihatan tapi terasa, agama itu tak perlu ditampilkan dengan
simbolsimbol tapi miskin makna. Simbol-simbol itu hanya menjadikan agama
seperti gincu, terlihat tapi tak terasa.
Untuk apa, misalnya,
menyebut dirinya partai Islam tapi korupsinya tak kalah dari partai
sekuler. Untuk apa bangga dengan kenaikan jumlah masjid dan pemakai
jilbab jika banyak kebebasan beragama kelompokkelompok agama minoritas
terus mengalami penindasan. Untuk apa mengundangundangkan syariah, jika
itu justru membuat orang tidak bisa menjadi muslim yang baik “by
conviction and free choice” (An-Na’im 2008, 1).
Sebelum kejadian
Turki Spring yang saat ini masih berlangsung, model dari partai Islam
yang cukup dihargai dan jadi referensi saat ini adalah AKP (Partai
Keadilan dan Pembangunan) di Turki. Partai ini dianggap mampu melepas
simbol-simbol agama tapi membangun ekonomi rakyat. Model ini barangkali
yang dulu hendak dikembangkan Bung Hatta dengan ekonomi kerakyatannya,
meski dia tidak banyak melakukannya melalui partai politik.
Namun
demikian, jika model Turki itu ternyata hilang atau tampak di permukaan
saja, maka akan sulit mencari contoh partai Islam yang bisa mewakili
Islam substantif di luar negeri. Dalam menyambut hirukpikuk Pemilu 2014,
barangkali perlu menengok dan menyuarakan kembali politik Islam yang
ramah dan humanis itu.
Buya Syafi’i telah memperjuangkan
moralitas kebangsaan dan kemanusiaan ini selama bertahun-tahun meski
perpolitikan nasional belum juga membaik. Semoga beliau tetap konsisten
dengan perjuangannya di tengah perpolitikan nasional yang kehilangan
fatsun sekarang ini.
AHMAD NAJIB BURHANI
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Sumber : http://www.koran-sindo.com

Posting Komentar